BELAJAR
SEPANJANG HAYAT

FISIKA ITU AYAT ALLAH

Jagat raya dengan segala isinya memperlihatkan kesempurnaan dan keteraturan yang luar biasa, sangat menakjubkan dan sekaligus penuh misteri. Tiap sudut alam adalah keajaiban, keindahan, keharmonisan dan kedahsyatan dari sebuah existensi yang tak terhingga. Dari alam yang sangat besar ; Galaksi, black hole, bintang raksasa, super nova dan lain-lain, dimana baginya planet bumi ini hanyalah setitik debu, sampai yang terkecil, yang amat sangat renik; elektron, proton, neutron, atom, virus, sel dan bakteri serta masih banyak lagi zarrah-zarrah lainnya, dimana baginya ujung jarum adalah sebuah lapangan yang sangat luas, selalu mempertontonkan existensinya dipelataran akal manusia dengan pertunjukkan amat memukau, menarik gairah akal untuk terus menyelaminya namun sekaligus membisukannya. Merontakan intelegensi manusia untuk berteriak: merdeka dari belenggu kebodohan!, namun sekaligus meruntuhkan dan melumpuhkan arogansi dan kesombongannya kemudian membekulah intelegensi manusia itu di ruang gelap yang pekat. Subhanallah! inilah Maha Karya Besar yang yang tercipta hanya dengan sebuah kata : KUN!, JADILAH ! Fayakun!, maka jadilah! Maka terciptalah ruang alam: materi dan energi dengan bingkai waktu. Dan tercipta pula alam lain yang tak terbingkai waktu. Dan, mungkin juga telah tercipta jutaan alam lain yang tidak bisa didefinisikan oleh akal manusia dengan segala keterbatasannya, karena memang, bagaimana mungkin akal manusia yang juga merupakan bagian dari ciptaan-Nya dan amat kecil dapat menjelaskan dan menjangkau seluruh yang tercipta dengan jumlah takterhingga. Maka sesungguhnya, wujud semesta adalah deskripsi amat nyata tentang Ada-Nya Sang Maha Pencipta. Alam adalah ayat Allah, ayat kauniyyah sebagai petunjuk sesungguhnya tentang Yang Maha Ada dengan segala keberadaan-Nya.


Alam sebagai ayat kauniyyah itulah semestinya selalu menjadi media tafakkur bagi seluruh manusia untuk menemukan jati dirinya sebagai mahluk Allah yang paling sempurna dan mengembangkan kompetensi fikirannya seoptimal mungkin sebagai bentuk nyata dari tugas utamanya di alam ini sebagai khalifah Allah di bumi, wakil Allah yang harus sanggup menata bumi yang dipijaknya dan langit yang menaunginya serta sekaligus menadikan tempat manusia mengabdi ( beribadah) kepada-Nya. Maka tafakkur tentang alam semesta dengan mempelajari sifat, perilaku dan interaksinya adalah merupakan sebuah keniscayaan bagi manusia untuk mencapai predikat mahluk paling mulia. Tanpa proses tersebut, akan sangat mustahil manusia bisa menampilkan dirinya sebagai khalifah Allah di alam ini.

Existensi alam berupa ayat -ayat Allah, terutama yang berwujud zat atau benda yang dapat dipelajari dan diteliti memiliki konsep, hukum, teori serta potulat sebagai deskripsi dari keteraturannya itu. Ilmu yang mempelajari sifat, perilaku dan interaksi alam dengan menggali konsep, hukum, teori dan postulat tersebut dinamakan ilmu fisika. Oleh karena itu tepatlah jika dikatakan bahwa fisika itu adalah ayat Allah.

Subhanallah. Wallahu A'lam ......!

Pendidikan Sepanjang Hayat

oleh : Akhmad Sudrajat

Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/03/pendidikan-sepanjang-    

              hayat-ii/

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat. Tuntutlah ilmu sejak buaian sampai lubang kubur. Tiada amalan umat yang lebih utama daripada belajar”.

Belajar sepanjang hayat ini dikemukakan oleh Edgar Faure dari The International Council of Educational Development (ICED) atau Komisi Internasional Pengembangan Pendidikan. Sebagai ketua Komisi tersebut Edgar Faure mengatakan : With its confidence in man’s capacity to perfect himself through education, the Moslem world was among the first to recommend the idea of lifelong education, exhorting Moslem to educate themselves from cradle to the grave. (Faure, 1972, h.8)

Islam mewajibkan pemeluknya untuk belajar dan mengembangkan kemampuan nalarnya secara terus menerus bukan saja terhadap objek-objek di luar dirinya, tetapi juga terhadap kehidupannya sendiri baik sebagai perorangan maupun sebagai suatu komunitas.

Seperti dikemukakan oleh Andrias Harefa (2000) bahwa pembelajaran akan mampu membuat manusia tumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan, menjadi dewasa dan mandiri. Manusia mengalami transformasi diri, dari belum/tidak mampu menjadi mampu atau dari ketergantungan menjadi mandiri. Dan, transformasi diri ini seharusnya terus terjadi sepanjang hayat, asalkan ia tidak berhenti belajar, asal ia tetap menyadari keberadaannya yang bersifat present continuous, on going process, atau on becoming. Persoalannya adalah, sebagian besar manusia tidak mendisiplinkan dirinya untuk tetap belajar tanpa henti. Sebagian besar manusia berhenti belajar setelah merasa dewasa. Sikap gede rasa ini umumnya disebabkan oleh kebodohan yang bersifat sosial dan mental/ psiko-spiritual. Sebagian orang merasa telah dewasa karena telah berusia di atas 17 atau 21, atau telah selesai sekolah atau kuliah, telah memiliki gelar akademis, telah memiliki pasangan hidup, telah memiliki pekerjaan dan jabatan yang memberinya nafkah lahiriah. Hal-hal itu telah membuat mereka berhenti belajar, sehingga tidak lagi mengalami transformasi-transformasi dalam kehidupannya, sehingga mereka tidak siap mengantisipasi perubahan-perubahan yang timbul. Sebaliknya bagi mereka yang senantiasa menjadikan proses belajar merupakan bagian dari kehidupannya mereka akan senantiasa siap mengantisipasi perubahan yang timbul atau bahkan perubahan yang diperoleh mereka sebagai akibat langsung dari proses belajar yang senantiasa mereka lakukan. Konsekwensi perubahan yang terjadi akan menjadi titik tolak bagi mereka untuk senantiasa terus belajar – on becoming a learner istilah yang dipakai Andrias Harefa- untuk selalu siap mengantisipasi perubahan yang akan muncul lagi sebab perubahan merupakan sesuatu yang abadi, selamanya akan muncul on and on.

Kegiatan pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok diantaranya kegiatan yang terjadi pada jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah.

Pada jalur pendidikan luar sekolah, sejak kehadirannya, kegiatan pembelajaran kelompok menjadi ciri utama. Dalam perkembangannya, kegiatan pembelajaran dalam pendidikan luar sekolah telah memperoleh dukungan dari berbagai teori pembelajaran dan dari pengalaman para praktisi di lapangan sehingga muncul kegiatan pembelajaran partisipatif. Dewasa ini pembelajaran partisipatif tidak saja digunakan dalam program-program pendidikan luar sekolah tetapi juga di beberapa kawasan di dunia ini, dan telah diserap serta diterapkan pada program-program pendidikan sekolah. Dengan demikian pembelajaran partisipatif telah menjadi bagian dari strategi pembelajaran yang dapat digunakan dan dikembangkan di dalam proses pendidikan baik di satuan pendidikan sekolah maupun satuan pendidikan luar sekolah.

Upaya penerapan pembelajaran partisipatif pada pendidikan sekolah dapat dipertegas dengan menekankan peranan pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar secara aktif dan partisipatif. Keterlibatan pendidik dapat meliputi dua hal penting, diantaranya, pertama, dalam penyusunan dan pengembangan program belajar serta yang kedua, dalam upaya menumbuhkan kondisi supaya peserta didik melakukan kegiatan belajar partisipatif. Keterlibatan dalam penyusunan dan pengembangan program pembelajaran, pendidik bersama peserta didik melakukan asesmen kebutuhan belajar; identifikasi sumber-sumber dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran; menyusun tujuan belajar, menetapkan komponen dan proses pembelajaran, serta melaksanakan dan menilai program pembelajaran. Keterlibatan pendidik dalam menumbuhkan situasi belajar yang kondusif bagi peserta didik untuk belajar meliputi upaya menciptakan iklim belajar yang partisipatif. Knowles mengemukakan ada tujuh langkah pendidik yang dapat membantu peserta didik untuk belajar partisipatif. Ketujuh langkah tersebut adalah membantu peserta didik untuk: (1) menumbuhkan keakraban yang mendorong untuk belajar, (2) menjadi anggota kelompok dan belajar dalam kelompok, (3) mendiagnosis kebutuhan belajar, (4) merumuskan tujuan belajar, (5) menyusun pengalaman belajar, 6) melaksanakan kegiatan belajar, dan (7) melakukan penilaian terhadap proses, hasil, dan pengaruh belajar.

Produk dari suatu proses pembelajaran baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah adalah perubahan tingkah laku peserta didik selama dan setelah mengikuti proses pembelajaran. Perubahan perilaku tersebut mencakup ranah (domain) afektif, kognitif, dan psiko-motorik serta konatif. Ranah afektif adalah sikap dan aspirasi peserta didik dalam lingkungannya melalui tahapan penerimaan stimulus, respons, penilaian, pengorganisasian, dan karakterisasi diri dalam menghadapi stimulus dari lingkungan. Ranah Kognitif adalah kecakapan peserta didik yang diperoleh melalui pengetahuan, pemahaman, penggunaan, analisis, sintesis, dan evaluasi terhadap sesuatu berdasarkan asas-asas dan fungsi kelimuan. Asas keilmuan yang objektivitas, observabilitas, dapat diukur, dan bernilai guna, sedangkan fungsi keilmuan adalah menggambarkan, menjelaskan, memprediksi, dan mengandalkan. Psiko-motorik atau skills adalah penguasaan dan penggunaan sesuatu keterampilan melalui tahapan rangsangan, kesiapan merespons, bimbingan dlam melakukan respons, gerakan mekanik, respons yang lebih kompleks, adaptasi, dan melakukan sendiri. Tegasnya perubahan tingkah laku peserta didik dalam ranah afektif, kognitif, psiko-motorik, dan konatif merupakan produk pembelajaran.

Misteri Kehidupan di Luar Bumi

  REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Angkasa tiada batas. Allah SWT dalam firmannya mengatakan dalam surat Adz-Dzariyat ayat 47, "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." Perkataan Sang Pencipta benar adanya. Sudah miliaran benda luar angkasa berhasil teridentifikasi. Ungkapan Alquran juga memunculkan harapan manusia untuk mencari planet lain yang sedianya bisa ditempati.

Dunia Barat telah lama mengendus kemungkinan adanya planet lain yang memiliki syarat kehidupan di luar sistem tata surya matahari atau eksoplanet. Harapan itu kian terbuka setelah peneliti Barat menemukan sejumlah catatan penting tentang keberadaan planet yang menyerupai bumi. Tercatat tahun 1995, planet pertama yang menyerupai bumi berhasil teridentifikasi. Sayangnya, kebanyakan dari planet-planet yang ditemukan terlalu besar atau terlalu kecil, atau terlalu panas dan terlalu dingin.

Selama ini, peneliti menggunakan tiga patokan untuk merekomendasikan planet tersebut mirip dengan bumi. Patokan pertama, peneliti memperhitungkan garis edar planet tersebut dengan pusat tata surya.

Garis edar tersebut memungkinkan peneliti mengetahui berat massa planet dan eksistensi planet tersebut. Patokan kedua, peneliti memperhitungkan posisi planet ketika berada di titik terdekat dengan matahari. Patokan ini yang akan menentukan apakah planet tersebut terbilang panas atau dingin. Patokan terakhir, peneliti menganalisis bagaimana cahaya dari satu bintang dibelokan karena perjalanan sekitar planet yang mengorbit bintang lain yang lebih dekat ke bumi.

Astronom Barat sempat pula menemukan planet yang teridentifikasi berada di kawasan sabuk Goldilocks. Planet berkode Gliese 58Ig menurut analisis peneliti nyaris mirip dengan bumi. Suhu udara di planet itu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Peneliti juga menemukan adanya kandungan air di planet tersebut. Sayangnya, eksistensi keberadaan planet itu dipertanyaakan astronom lain.

Belum lagi nada pesimistis peneliti lainnya yang mempertanyakan jarak tempuh yang harus dilalui manusia guna mencapai planet tersebut. Keraguan itu memang logis mengingat jarak yang harus ditempuh manusia di bumi menuju planet yang dituju berkisar jutaan tahun cahaya. Dengan dasar seperti itu, apakah manusia mampu bertahan hidup dengan jarak yang super jauh itu.

Red: irf
Rep: Agung Sasongko
Sumber: Time

Realtime Clock

The Weather Channel

GT